Pos

Polsek Muara Kaman

Hamili Gadis 17 Tahun, Mahasiswa Diamankan Polisi

Polsek Muara Kaman

Pelaku saat diamankan oleh petugas Polsek Muara Kaman

HUMAS RESKUKAR – Diduga menyetubuhi gadis di bawah umur, seorang mahasiswa universitas ternama di Kaltim bernama Bobby Mateus (19) warga Desa Bunga Jadi, Kecamatan Muara Kaman dijebloskan ke sel tahanan Polsek Muara Kaman pada Kamis (20/10)lalu. Boby dilaporkan keluarga korban ke polisi lantaran menolak menikahi korban dan membujuk korban untuk menggugurkan kandunganya.

Menurut pengakuan korban berinisial FF, pelaku menyetubuhinya pada 10 Juli 2016 lalu. Saat itu korban masih berusia 17 tahun 3 bulan alias asih tergolong anak di bawah umur. Kejadian bermula ketika korban dan dua rekan yang sama-sama tinggal di Kecamatan Sebulu pergi berlibur ke Samarinda. Namun ketiganya kemalaman saat hendak pulang,”Korban dan teman-temanya kemalaman saat mau pulang ke Sebulu,”terang Kapolres Kukar AKBP Fadillah Zulkarnaen

Seorang rekan korban bernama Titik yang sudah lebih dulu mengenal pelaku, menghubungi pelaku untuk menumpang menginap di kost an pelaku di Jalan M Yamin. Namun saat tengah malam, pelaku mengajak korban tidur di dalam kamar, saat itulah pelaku membujuk korban agar mau berhubungan badan. Dua minggu usai kejadian tersebut korban ternyata hamil. Mengetahui hal itu, pelaku justru meminta korban menggugurkan kandunganya,”Korban sempat diminta datang ke rumah pelaku untuk menggugurkan kandunganya menggunakan pil yang dibawa pelaku, namun di rumah korban kembali diajak berhubungan intim,”ujar AKBP Fadillah Zulkaenaen.

Korban yang menolak menggugurkan kandunganya akhirnya mengadu ke orang tuanya. Setelah didesak, pelaku perjanji menikahi korban. Namun hingga usia kandungan korban mencapai tiga bulan, pernikahan tak kunjung dilakukan. Orang tua korban akhirnya melaporkan pelaku ke Polisi,”Pelaku sudah menjalani penahanan dan akan dijerat pasal ‎81 ayat(2) jo psl 76D UU No.35 thn 2004 ttg perubahan UU Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak,”tegas Kapolres Kukar AKBP Fadillah Zulkarnaen.

Polsek Sebulu

Polsek Sebulu dan Unit PPA Polres Kukar Gelar Razia di SMA Negeri 2 Sebulu

Antisipasi Penyalahguna Narkotika, Seks Bebas dan Pelecehan Seksual

Polsek Sebulu

Petugas saat melakukan pemeriksaan Handphone milik Siswa SMA Negeri 2 Sebulu

HUMAS RESKUKAR – Menindaklanjuti penanganan kedisiplinan dan tindak kriminal sekaligus peran serta sekolah dalam program nasional ( Pemberantasan Narkoba ), ‎Kamis (20/10) sekitar pukul 10.00 Wita, Polsek Sebulu dan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kukar menggelar razia dan penyuluhan di ‎SMA 2 Sebulu. Selain memeriksa seluruh barang bawaan siswa, polisi juga memberikan penyuluhan tentang Bahaya Narkoba, Seks Bebas dan Pelecehan Seksual.

Giat Razia dipimpin langsung Kapolsek Sebulu AKP Zainal Arifin dan 15 Personil Polsek Sebulu serta Kanit PPA Polres Kukar Aiptu Irma Ikawati bersama 3 personilnya. “ terhadap siswa siswi SMA Negeri 2 sebulu kita memeriksa isi Tas dan HP siswa siswi yang juga didampingi langsung oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Sebulu Jafar Khudori, M.App.Ling dan Guru pengajar disetiap kelas, tutur Kapolsek Sebulu AKP Zainal Arifin.

Dalam Razia tersebut ada salah satu Siswa yang kedapatan membawa pisau sejenis sangkur pramuka, siswa tersebut tidak kita tahan namun hanya memberi peringatan dan kemudian siswa tersebut diserahkan kegurunya dan giat razia pun selesai pada pukul 11.30 wita, jelas Kapolsek Sebulu.

Ditempat yang bersamaan Kapolres Kukar AKBP Fadillah Zulkarnaen melalui Kanit PPA Polres Kukar Aiptu Irma Ikawati mengatakan “ kedatangan kami kesini untuk bersama dengan personil Polsek sebulu adakan razia kami juga memberikan arahan kepada siswa siswi tentang tentang bahayanya Narkotika, Seks bebas hingga pelecahan seksual,”terang Aiptu Irma Ikawati.

Ia menambahkan ”angka kekerasan seksual terhadap anak di Kukar dari tahun ke tahun mengalami penurunan namun jumlahnya masih terbilang tinggi. Pada 2013 terdapat 83 tiga kasus, 2014 menjadi 30 kasus, menurun terus hingga Oktober 2016 menjadi 20 kasus. Data tersebut masih sebatas kasus yang ditangani unit PPA Polres dan belum termasuk kasus yang ditangani masing-masing Polsek di Kukar,” Berbagai sosialisasi yang dilakukan kepolisian baik di lingkungan sekolah dan kecamatan terbukti telah mampu menurunkan angka kekerasan seksual terhadap anak,”ungkap Aiptu Irma Ikawati. (Dik25)

Polsek Sebulu

Kanit PPA Polres Kukar AIPTU Irma Ikawati saat memberikan arahan terkait Bahaya Narkoba, Seks Bebas dan Pelecehan Seksual di Mushola SMA Negeri 2 Sebulu

Rilis

Gencar Sosialisasi Kasus kekerasan Seksual Menurun

Rilis

Kanit PPA Polres Kukar Aiptu Irma Ikawati

HUMAS RESKUKAR – Angka kekerasan terhadap anak di bawah umur yang ditangani Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Reserse Kriminal Polres Kutai Kartanegara , menunjukkan penurunan yang cukup signifikan, berdasarkan data ada 19 Kasus.

Saat ditemui diruang kerjanya, rabu (12/10), Kapolres Kukar AKBP Fadillah Zulkarnaen melalui Kanit PPA Polres Kukar Aiptu Irma Ikawati menyebutkan “ Dari 19 kasus tersebut hanya baru diwilayah Tenggarong, berbagai sosialisasi yang dilakukan kepolisian baik di lingkungan sekolah dan kecamatan terbukti telah mampu menurunkan angka kekerasan seksual terhadap anak di Kukar “ujarnya

Sementara itu data yang diperoleh kasus pencabulan di Tenggarong sejak 2013 hingga Oktober 2016 ada sebanyak 168 Kasus yang diantaranya 2013 ada 85 kasus, 2014 ada 24 kasus, 2015 ada 24 kasus dan sedangkan 2016 ada 19 kasus.

Kanit PPA Irma Ikawati menambahkan “ Kami menghimbau kepada seluruh orang tua agar lebih mengawasi prilaku anak-anak, jadi apabila anak kita yang masih balita ataupun batita bermain diluar paling tidak ada yang mengawasi dan diharapkan selalu cek dan ricek kondisi dari pada tubuh anak kita yang terutama bagian-bagian vital karena itu yang sering terjadi perkara kejadiannya kapan laporannya kapan, itu karena mungkin ketidak tahuan pada orang tua. Jadi kami himbau kepada orang tua agar lebih waspada dan perhatikan anak-anak,jelasnya (Dik25)

Press Rilis

Gauli Bocah Umur 8 Tahun sebanyak 6 Kali, Kakek Umur 70 Tahun diamankan Polisi

Press Rilis

Waka Polres Kukar Kompol Andre Anas saat siaran Rilis di ruang Tribrata Polres Kukar

HUMAS RESKUKAR – Warga Desa Sungai Meriam, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, MAL (70) tega menggauli bocah kelas 2 SD ini yang berusia 8 tahun sebanyak enam kali dan dicabuli empat kali, sebut saja Mawar.

Dalam Press Rilis di Ruang Tribrata Polres Kukar, Selasa (11/10/2016), Kapolres Kukar AKBP Fadillah Zulkarnaen melalui Wakapolres Kukar, Kompol Andre Anas didampingi Kapolsek Anggana IPTU Suwarsono, Kanit Reskrim IPDA Baharuddin dan Kanit PPA Polres Kukar AIPTU Irma Ekawati mengatakan “ korban sering mengeluhkan sakit saat hendak buang air kecil, Keluhan ini disampaikan kepada tantenya. Akhirnya Mawar buka mulut kalau dirinya kerap dicabuli MAL tetangga korban sendiri. Selama ini korban tinggal bersama tantenya setelah orangtuanya bercerai”.

Mendengar cerita itu Tante korban segera melaporkan MAL  ke Polsek Anggana yang mana Pelaku punya usaha toko bangunan ini segera diringkus anggota Polsek Anggana di kediamannya, Jumat (7/10/2016).

Rilis

Pelaku MAL

Waka Polres Kukar menjelaskan “ untuk mempelancar niat jahatnya MAL mengiming-imingi korban dengan uang saku Rp 5.000 – Rp 10.000. kemudian Pelaku membujuk dan mengajak korban ke rumahnya. Lalu MAL meraba-raba bagian alat vital bocah perempuan itu. Bahkan kakek itu mengajak Mawar berhubungan layaknya orang dewasa setelah itu korban juga diancam agar tidak buka suara pada orang lain. hasil visum rumah sakit menyebutkan korban mengalami kekerasan seksual yang ditandai bekas luka robek di bagian alat vitalnya, jelasnya.

“Aksi bejat pelaku ini timbul karena sering melihat korban mandi di pinggir sungai dekat rumah”, MAL mengakui khilaf dan menyesalinya. Polisi masih terus mengembangkan kasus ini, termasuk kemungkinan adanya korban lain, tambahnya.

MAL diancam Pasal 76 E Jo Pasal 82 ayat (1) UURI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UURI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman penjara minimal 5 taun dan maksimal 15 tahun. Tegas Waka Polres Kukar Kompol Andre Anas. (Dik25)